Penulis dalam hal ini selalu merasa miris, seringkali melihat bahkan merasakan satu adegan yang berulang di ruang sidang, di media sosial, bahkan di ruang rapat pejabat publik: seorang advokat dicecar bukan karena argumen hukumnya keliru, melainkan karena kliennya. Advokat pembela terduga koruptor disebut “pembela koruptor”. Advokat pendamping terduga teroris dituding “simpatisan teroris”. Advokat yang mengurus sengketa lahan...Read More