Sebuah dialog imajiner lintas zaman dan peradaban. Perbincangan berlangsung di suatu waktu, tanpa batas, hanya ada pikiran, argumen, dan kegelisahan. Hujan rintik-rintik sejak sore, aroma tanah basah menyusup ke dalam pendopo Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien, Takeran, melalui jendela-jendela kayu jati tua yang separuh terbuka. Di ruang makan utama, ruangan dengan langit-langit tinggi, dinding putih dingin,...Read More