Video Ustadz Abu Bakar Ba'asyir Akui Pancasila, Ini Penjelasan Keluarganya - Kongres Advokat Indonesia

Video Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Akui Pancasila, Ini Penjelasan Keluarganya

Putra Ustaz Abu Bakar Ba’asyir Abdul Rochim Ba’asyir menegaskan bahwa ayahnya tak pernah menolak Pancasila. Menurutnya, prinsip demikian sudah dipegang oleh Ba’asyir sejak lama.

Hal demikian merespons sebuah video yang menampilkan Ba’asyir sedang memberikan ceramah dan mengakui Pancasila sebagai dasar negara.

“Itu video sudah sekitar empat bulan yang lalu. Dan itu [mengakui Pancasila] sudah lama, itu bukan baru. Pak Ba’asyir pada prinsipnya tak pernah tolak Pancasila,” kata Abdul kepada CNNIndonesia.com, Selasa (2/8).

Abdul menjelaskan Ba’asyir hanya menolak Pancasila sebagai paham yang anti-Islam atau dibenturkan dengan Islam. Ba’asyir, kata dia, mengakui Pancasila sesuai dengan maksud para pendiri bangsa.

“Beliau tolak jika Pancasila dibenturkan dengan Islam, sehingga upaya menegakkan syariat Islam di Indonesia dibenturkan Pancasila, itu yang beliau tolak,” ujarnya.

Abdul mengatakan Ba’asyir sependapat bahwa Sila pertama Pancasila yang berisikan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ sesuai ajaran tauhid dalam Islam. Sehingga, negara Indonesia dianggap dapat ditata sesuai aturan yang bersumber pada prinsip-prinsip ketuhanan yang diatur dalam Pancasila.

“Jadi beliau melihat sila pertama Pancasila itu adalah bertuhan kepada Allah SWT,” ucap Abdul.

Dalam video yang beredar itu, Ba’asyir mengakui bahwa pemahaman ini merupakan hal baru baginya. Sebab, dia pernah memiliki anggapan bahwa percaya pada Pancasila sebagai sesuatu yang syirik.

Lebih jauh, Ba’asyir menyebut para ulama pada dasarnya memiliki niat ikhlas. Termasuk dalam memikirkan dasar negara Pancasila.

“Ini juga pengertian saya terakhir, dulu-dulunya saya bilang Pancasila itu syirik, tapi setelah saya pelajari berikutnya, ndak mungkin ulama menyetujui dasar negara syirik, itu ndak mungkin,” kata Ba’asyir. CNNINDONESIA

Silahkan tinggalkan komentar tapi jangan gunakan kata-kata kasar. Kita bebas berpendapat dan tetap gunakan etika sopan santun.