4 Langkah Jitu Sarjana Hukum Sukses di Sektor Migas
4 Langkah Jitu Sarjana Hukum Sukses di Sektor Migas

4 Langkah Jitu Sarjana Hukum Sukses di Sektor Migas

4 Langkah Jitu Sarjana Hukum Sukses di Sektor Migas

Hukumonline.com – Industri minyak dan gas (migas) merupakan salah satu sektor penting yang mendukung roda perekonomian. Karenanya, tak heran banyak orang menilai bahwa meniti karier di sektor migas merupakan suatu prestise. Ternyata, peluang karier di industri ini tak hanya terbuka bagi para insinyur saja.

Nyatanya, Genades Panjaitan yang merupakan sarjana hukum berhasil meraih puncak karir di sektor ini. Di ruang kerjanya yang nyaman pada Kamis (14/4), Chief Legal Counsel & Compliance PT Pertamina (Persero) ini berbagi cara jitu untuk para sarjana hukum meraih sukses di sektor migas.

1. Fokus
“Fokus dengan apa yang mau kita geluti,” kata Genades. Menurutnya, kunci utama meraih kesuksesan karir adalah fokus. Ia mengingatkan, sejak awal seharusnya setiap sarjana mengetahui apa yang akan digelutinya.

Ia mencontohkan, setelah bekerja selama empat tahun di PT Caltex Pacific Indonesia Genades melanjutkan studinya. Ia memperdalam pengetahuan terkait dengan oil pollution di UC Berkeley School of Law. Topik tersebut berbeda dengan minatnya pada waktu menulis skripsi. Hanya saja, karena sudah berkecimpung di dunia migas Genades tertantang untuk mengetahui persoalan di sektor itu lebih jauh lagi.

“Banyak kasus di Caltex soal itu. Mulai peringatan dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal), sampai gugatan dari masyarakat. Lalu, saya lihat peraturan hukum kita waktu itu masih belum begitu lengkap. Jadi saya ingin tahu lebih jauh. Makanya saya ambil topik itu tesisnya,” ujarnya.

2. Multidisipliner
Bagi Genades, penguasaan ilmu hukum harus ditopang dengan pemahaman terhadap ilmu lain jika ingin sukses meniti karir di sektor migas. Ia tak memungkiri, dirinya juga dituntut memahami hal-hal teknis berkaitan dengan industri migas. Kendati demikian, sebagai seorang lawyer perusahaan, tak perlu menguasai hingga mendetil.

Lebih lanjut Genades mengingatkan, pengacara perusahaan bukanlah jaksa atau yang pendapatnya normatif. Bukan pula dosen yang cukup memahami seluk-beluk persoalan hukumnya saja. Genades mengatakan, sarjana hukum yang berkarir di industri migas merupakan business lawyer.

Dengan demikian, peran yang dimainkan harus membantu perushaan untuk mencapai tujuan bisnisnya. Sehingga, dalam memberikan solusi atas masalah-masalah hukum yang dihadapi perusahaan juga memberikan pilihan-pilihan yang baik. Tujuannya, agar perusahaan terbantu tidak hanya menaati hukum tetapi sekaligus juga mencapai tujuan bisnisnya.

“Saya tekankan, kita ini bukan pengamat yang bisa komentar sesuka hati. Kita harus memahami tujuan bisnis perusahaan itu apa. Nah, kalau saya tidak mengerti hal-hal teknis bagaimana saya memberikan advice yang tepat. Misalnya, soal kilang. Saya harus paham mengenai bisnis kilang supaya bisa memberikan masukan terkait dengan kilang,” paparnya.

3. Ambisius
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, ambisius artinya berkeinginan keras mencapai harapan atau cita-cita. Menurut Genades, untuk mencapai sukses salah satu kunci pentingnya adalah tidak mudah menyerah dan berpuas diri. Ia mengisahkan, saat mendapat kesempatan beasiswa dari tempatnya bekerja untuk melanjutkan studi ke luar negeri, ia bertekad untuk mendapat universitas yang lebih baik dari pendahulunya. Sebab, dirinya yakin hal ini akan membawa dampak baik bagi karirnya.

“Sebelumnya, pendulu saya itu ke Southern University di Dallas. Saya pikir kenapa tidak mencoba untuk dapat yang lebih baik. Saya pun apply ke Berkeley dan diterima,” ujarnya.

4. Luwes
Dari pengalamannya bekerja di perusahaan asing dan perusahaan nasional, Genades berkesimpulan bahwa sikap luwes diperlukan untuk meraih sukses. Ia meyakini, setiap perusahaan memiliki budaya kerja yang berbeda. Oleh karenanya, di perusahaan manapun seseorang berkarir maka harus mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja.

Genades mengatakan, keluwesan sikap bisa menjadi penentu kesuksesan. Ia menilai, orang yang tidak mampu mengelola resistensi akan dinilai sebagai orang yang gagal. Sehingga, ia menggarisbawahi pentingnya kemampuan untuk beradaptasi.

“Pembaharuan tanpa resistensi bukan berarti tidak ada perubahan. Jangan sampai ada penilaian bahwa gara-gara kita ada disana, terjadi keributan segala macam. Sehingga dianggap gagal atau tidak berhasil,” katanya.

(Kongres Advokat Indonesia)

Silahkan tinggalkan komentar tapi jangan gunakan kata-kata kasar. Kita bebas berpendapat dan tetap gunakan etika sopan santun.

TERPOPULER

TERFAVORIT

KAI Makin Mengukuhkan Diri Sebagai Organisasi Advokat Modern Berbasis Digital & Artificial Intelligence
January 30, 2024
tjoetjoe-sandjaja-hernanto-pengangkatan-dki-jakarta
Presiden KAI: Pilpres Sebentar Lagi, Ini Pilihan Saya!
January 30, 2024
Amanat Undang-undang, 39 Advokat Diangkat Dalam Sidang DPP Kongres Advokat Indonesia
January 29, 2024
Presiden KAI: Menunjukkan BAS Tiap Sidang Tidak Selaras Dengan Digitalisasi di Mahkamah Agung
December 18, 2023
Presiden KAI Dr. Tjoetjoe Tegaskan Advokat JM Diduga Pelaku Asusila Tak Terdaftar Anggota Kongres Advokat Indonesia
December 13, 2023