Membela Berarti Melawan Kekuasaan - Kongres Advokat Indonesia

Membela Berarti Melawan Kekuasaan

Jalan layang yang saling bersilangan sedekat mata memandang hingga kejauhan dari lantai 32 tampak seperti sketsa arsitektur yang hidup, kendaraan bergerak lamban seperti darah yang mengalir pelan di pembuluh kota yang lelah. Dari ketinggian itu saya kerap merenung, bahwa hukum barangkali bekerja serupa jalan layang, bersilangan, kadang berpotongan, kadang berjauhan, namun tetap mengarahkan setiap orang ke tujuan yang berbeda-beda. Pemandangan itu menjadi latar diam yang setia menemani setiap rapat panjang di lantai 32.

Tentang Advokat, seringkali bahan pembicaraan tak lebih seputar issue hukum, organisasi, teknik dan strategi sidang dan seterusnya yang berseliweran dari media sosial yang tak tentu verifikasi dan validasi, hanya berbagi karena perasaan saja berdasarkan sudut pandang dan sentimen pribadi, belum lah objektivitas profesional, begitu pengap dengan sirkulasi udara panas yang berputar saja dalam ruang dengan ventilasi yang minim, tidak sehat.

Tidak mau bicara politik, tapi membagikan irisan issue yang sangat politis, tanpa pengantar pandangan politik hukumnya, benar-benar ironi dan kontradiktif. Saya melihat betapa kecilnya orang-orang di bawah sana, tapi, bagi mereka malah saya yang bukan hanya kecil, tapi bahkan tidak tampak karena tersamar oleh pantulan kaca dan hanya sebidang ruang. Jadi, tidak mungkin saya boleh memandang rendah, tapi lebih memilih pernyataan melihat ke bawah.

Bagaimana keadaan saudara-saudara Advokat nun jauh diluar sana? Perkenankan saya sedikit bercerita.

Pagi itu, 10 Juli 2015, Liang Xiaojun baru saja selesai sarapan ketika ponselnya bergetar tanpa henti. Banyak pesan masuk, membawa kabar yang sama: rekan-rekannya hilang, satu per satu, dari rumah atau kantor. Sehari sebelumnya, pengacara HAM bernama Wang Yu baru saja mengantar suami dan anaknya ke bandara untuk penerbangan malam. Begitu ia kembali ke apartemennya, listrik dan internet mati. Panik, ia sempat mengirim pesan singkat bahwa beberapa pria tengah mencoba mendobrak masuk. Setelah itu, ia menghilang.

Hari itu menjadi awal dari “Insiden 709”, operasi penumpasan besar-besaran terhadap komunitas pengacara pembela HAM di China. Sekitar pukul setengah delapan pagi, tiga pria menyeret seorang pengacara terkenal dari sebuah hotel di pinggiran Beijing, kepalanya ditutup kerudung hitam, diseret melewati lobi di depan mata umum. Pada saat yang sama, polisi menggerebek Kantor Hukum Fengrui, pusat saraf gerakan pengacara hak asasi di China. Menjelang sore, hampir enam puluh pengacara sudah ditahan atau tak bisa dihubungi. Malam harinya, giliran Liang yang dipanggil “untuk sekadar mengobrol” di sebuah kafe dekat rumahnya. Itu bukan obrolan biasa.

Kisah Liang bukan satu-satunya. Hanya salah satu potret dari sebuah pola yang berulang selama puluhan tahun: pengacara di China, terutama mereka yang berani membela kasus-kasus sensitif secara politik, hidup dengan risiko yang tidak dihadapi profesi hukum di kebanyakan negara lain. Tak hanya menghadapi kekalahan di ruang sidang. Tapi juga penghilangan paksa, penyiksaan, pencabutan izin praktik, dan keluarga yang diintimidasi.

Salah satu contoh paling menyayat adalah Wang Quanzhang, membela pengikut gerakan spiritual Falun Gong yang dilarang, aktivis HAM. Setelah ditangkap dalam gelombang 709, ia menghilang dari radar publik selama bertahun-tahun. Istrinya, Li Wenzu, mengatakan bahwa suaminya bahkan tidak diizinkan bertemu pengacara yang mereka sewa sendiri, dan tak punya hak berkomunikasi dengan dunia luar sama sekali. “Ia telah dilucuti dari semua haknya,” katanya. Yang membuat kasusnya berlarut-larut, menurut sang istri, justru karena suaminya menolak untuk tunduk.

Berbeda dengan sejumlah rekannya yang akhirnya membuat pengakuan di televisi negara, Wang bertahan. Jerome Cohen, pakar hukum China dari New York University, menyebut para pengacara seperti Wang berada di garis depan perlawanan, sementara ratusan pengacara lain memilih bekerja diam-diam di dalam batas yang masih ditoleransi partai. “Tapi mereka pun merasakan tekanan itu,” kata Cohen, “dan mengamati dengan waswas bagaimana rekan-rekan yang tampil terbuka justru dihajar habis-habisan.”

Presiden Xi Jinping pun terus terang tentang bahaya yang ia lihat dalam gagasan-gagasan liberal, termasuk hak konstitusional yang bisa dipaksakan lewat pengadilan, bagi kekuasaan Partai Komunis. Bagi negara, pengacara idealnya berfungsi sebagai “gagang pisau kediktatoran proletariat”, bukan sebagai penjaga independen yang mengawasi kekuasaan. Cohen menggambarkannya dengan tajam: partai ingin pengacara berperilaku seperti dokter gigi, teknisi yang bekerja tanpa menyuarakan nilai-nilai masyarakatnya. Dan cara mewujudkan itu, katanya, dilakukan “dengan kekejaman luar biasa”.

Kekejaman itu bukan sekadar tuduhan tanpa bukti. Pada Januari 2017, transkrip interogasi seorang pengacara bernama Xie Yang dibocorkan ke publik oleh tim pembelanya sendiri. Di dalamnya, Xie menceritakan berbulan-bulan penyiksaan fisik dan tekanan mental dari deretan petugas polisi, jaksa, dan penjaga tahanan yang silih berganti. Interogatornya mengancam keluarganya secara halus namun jelas: “Istri dan anak-anakmu harus hati-hati soal keselamatan lalu lintas kalau sedang di jalan, akhir-akhir ini banyak kecelakaan.

” Ia juga diberitahu bahwa penahanannya diperintahkan langsung dari otoritas tertinggi di Beijing, dan mengajukan keluhan resmi tidak akan ada gunanya, sebab “kasus ini datang dari Beijing, kami menanganinya atas nama Partai Pusat.” Ketika Xie tetap menolak mengaku, penyiksaan dimulai. “Aku akan menyiksamu sampai kau gila,” kata salah satu interogator. “Kau akan jadi orang cacat.”

Tekanan seperti ini pada akhirnya berhasil memaksa sejumlah pengacara tampil di televisi negara mengucapkan kata-kata yang jelas bukan miliknya sendiri. Salah satunya berkata di depan kamera, mengutip kantor berita resmi Xinhua, meminta publik untuk “membuka mata dan melihat wajah buruk kekuatan-kekuatan bermusuhan dari luar negeri” serta tidak “tertipu oleh gagasan demokrasi dan HAM.” 

Wang Yu, pengacara pertama yang ditahan dalam gelombang 709, ketika akhirnya dibebaskan dengan jaminan, tampil dalam video yang menolak sejumlah penghargaan internasional yang diberikan selama di penjara, termasuk dari American Bar Association. “Saya orang China,” ujarnya, “dan saya hanya menerima kepemimpinan pemerintah China.” Bagi banyak pendukungnya, kata-kata semacam itu bukan bukti inkonsistensi, melainkan bukti betapa efektifnya tekanan.

Namun tidak semua kisah pengacara China berakhir dengan penyiksaan. Ada juga cerita yang menunjukkan sisi lain dari perjuangan ini: ketegangan sehari-hari antara pengacara dan sistem peradilan yang mereka anggap tidak adil, meski tidak selalu berujung pada kekerasan negara. Seorang hakim pengadilan kriminal, menulis dalam catatan pribadinya, pernah menerima tiga bungkus besar racun yang dikirim langsung oleh seorang pengacara pembela. Kliennya, seorang penjual obat tradisional China, divonis dua setengah tahun penjara atas tuduhan kelalaian yang menyebabkan kematian seorang pembeli. Sang pengacara, yang yakin buktinya lemah, membeli sendiri berbagai jenis “racun” herbal dari apotek-apotek di sekitar rumah korban di bawah pengawasan notaris, lalu mengirimkannya ke sang hakim sebagai bentuk protes atas kesimpulan hukum yang menurutnya gegabah.

Cara yang kasar, memang, tapi hakim tersebut akhirnya mengakui keraguan itu masuk akal: bukti yang ada tidak cukup kuat untuk memastikan racun yang membunuh korban benar-benar berasal dari toko obat sang terdakwa. Kasus itu akhirnya dikembalikan untuk disidangkan ulang, dan jaksa memilih mencabut tuntutan. Di tengah sistem yang keras, masih ada ruang sempit bagi pengacara untuk menang, asalkan mereka berani menempuh cara-cara yang tidak lazim.

Jauh sebelum generasi Liang, Wang, dan Xie, ada Zhang Sizhi, pengacara legendaris yang hidupnya sendiri adalah cermin dari perubahan zaman di China. Zhang memulai kariernya sebagai pejabat tinggi di pengadilan Beijing, sebelum dijebloskan ke kamp kerja paksa pada 1957 karena dianggap tidak cukup loyal kepada partai. Setelah bertahun-tahun menjalani hukuman, ia kembali muncul sebagai pengacara yang membela figur-figur paling kontroversial dalam sejarah hukum China, termasuk anggota Kelompok Empat dan tokoh-tokoh dissiden seperti Wei Jingsheng. Riwayat hidupnya menunjukkan bahwa opresi terhadap pengacara di China bukan fenomena baru; perulangan dengan hanya berganti wajah dari satu era ke era berikutnya, dari kamp kerja paksa era Mao hingga penahanan rahasia di era digital.

Yang membedakan generasi pengacara HAM saat ini, seperti Liang Xiaojun, adalah kesadaran bahwa mereka mungkin tidak akan pernah menang di ruang sidang. “Kami tahu kami tidak bisa menang,” kata Liang suatu hari, sambil membolak-balik buku hukum acara pidana yang sudah lusuh di mejanya. “Kami tidak bisa membuat klien kami dinyatakan tidak bersalah. Bagi pengacara HAM, tugas kami adalah menemui mereka, menyemangati mereka, menyampaikan pesan mereka ke dunia luar. Hanya pengacara yang bisa melakukan ini.” 

Ia berhenti sejenak, menyentuh cangkir tehnya yang sudah dingin. “Mungkin suatu hari nanti, setelah bertahun-tahun, ketika kita menoleh ke belakang pada pengorbanan Xie dan pengacara-pengacara lain, kita akan sadar itu semua berharga.” Lalu ia bertanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun di ruangan itu: “Tapi siapa yang akan mengingat namanya?”

Pertanyaan itu tidak mudah terjawab, seperti nasib ratusan pengacara lain yang memilih berdiri di antara individu dan kekuasaan negara. Mereka tidak dipermainkan oleh politik dalam arti metaforis. Tekanan yang mereka hadapi nyata, langsung, dan terang-terangan. Di balik setiap kasus yang mereka tangani, ada taruhan yang jauh lebih besar daripada menang atau kalah di pengadilan, yaitu pertanyaan apakah hukum di China benar-benar bisa menjadi tameng bagi rakyat biasa, atau sekadar alat kekuasaan yang berbicara atas nama hukum.

Ada dua cara memandang dari lantai 32, memandang rendah, atau melihat ke bawah, dan saya masih terus mencari mana yang lebih jujur menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi. Taman di bawah tak pernah berubah posisinya, jalan layang yang saling bersilangan tetap pada jalurnya, namun cara saya memandang keduanya berubah seiring waktu, dari sekadar pemandangan menjadi semacam cermin bagi cara saya memandang hukum, keadilan, dan orang-orang di sekitarnya.

*Adv. Agung Pramono, SH, CIL

Silahkan tinggalkan komentar tapi jangan gunakan kata-kata kasar. Kita bebas berpendapat dan tetap gunakan etika sopan santun.

TERPOPULER

TERFAVORIT

Dikukuhkan Jadi Ketua Dewan Pembina KAI, Bamsoet : Pekerjaan Rumah Kita Banyak untuk Sektor Penegakan Hukum
September 27, 2024
Lantik Pengurus, Ketua Presidium DPP KAI: Kita Wujudkan AdvoKAI yang Cadas, Cerdas, Berkelas
September 27, 2024
Dihadiri Ketua Dewan Pembina Sekaligus Ketua MPR RI, Pengurus DPP KAI 2024-2029 Resmi Dikukuhkan
September 27, 2024
Audiensi Presidium DPP KAI – Menkum HAM RI: Kita Mitra Kerja!
September 7, 2024
Diangkat Kembali Ketua Dewan Pembina Kongres Advokat Indonesia (KAI), Ketua MPR RI Bamsoet Dukung Pembentukan Dewan Advokat Nasional
July 25, 2024