Lawyer! Ini Kiat Sukses Berkarier Sambil Aktif Berorganisasi
Lawyer! Ini Kiat Sukses Berkarier Sambil Aktif Berorganisasi

Lawyer! Ini Kiat Sukses Berkarier Sambil Aktif Berorganisasi

Lawyer! Ini Kiat Sukses Berkarier Sambil Aktif Berorganisasi

Hukumonline.com – Berkarier dan berorganisasi, keduanya sama-sama membutuhkan komitmen dan butuh pengorbanan waktu. Namun, bukan berarti keduanya tak bisa dijalani bersamaan. Itulah yang kini tengah dilakukan oleh Wakil Ketua DPN Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), Jamaslin James Purba dan Sekretaris Jenderal DPN Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI), Andi Syafrani. Kiprah kedua advokat ini membuktikan bahwa antara karier dan organisasi ternyata bisa berjalan beriringan.

Saat dihubungi hukumonline, Sabtu (12/3), baik James maupun Andi mengatakan bahwa seorang advokat yang giat dalam berorganisasi justru akan punya banyak kelebihan yang dapat menunjang kariernya di dunia kepengacaraan. Sebaliknya, advokat yang kurang giat dalam berorganisasi akan punya kendala ketika ingin ‘melebarkan sayapnya’ di dunia profesi advokat. Kepada hukumonline, dua advokat super sibuk itu juga berkenan membagikan tips untuk para lawyer agar tetap sukses ditengah aktivitas organisasi.  Berikut sejumlah tips yang berhasil hukumonline himpun:

1.    Klien Tetap Nomor Satu!
Pembeli adalah raja. Ungkapan itu bisa dipakai menggambarkan betapa pentingnya seorang klien bagi profesi advokat. Tanpa mereka, lantas apa yang dikerjakan oleh advokat?. Itulah yang selama ini dilakukan Andi. Partner dari Zidny-Andi (ZiA) & Partners Law Firm itu mengatakan bahwa seorang advokat terikat dengan komitmen dan janji dengan kliennya. Sehingga, dalam keadaan apapun sebisa mungkin advokat mengutamakan kepentingan kliennya.

“Klien harus tetap jadi nomor satu karena itu merupakan pekerjaan utama kita. Ketika terjadi berbenturan waktu, maka klien menempati posisi pertama,” kata Andi saat dihubungi, Sabtu (12/3).

Sikap itu, lanjut Andi, bukan berarti organisasi menjadi ‘di nomor duakan’. Akan tetapi, ada prinsip yang mesti diperhatikan oleh setiap advokat bahwa profesi ini membutuhkan komitmen lebih dalam mengedepankan kepentingan klien. Namun, yang mesti diingat, advokat mesti bisa berkomunikasi secara baik dengan organisasi jika menemui agenda yang berbenturan.

“Prinsipnya ada yang mesti diperhatikan. Organisasi akan mengerti dan kita bisa minta izin. Rapat organisasi bentrok karena ada kepentingan klien, itu harus dikompromikan dengan baik, tapi biasannya akan memahami,” imbuh alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

2.    Buat Timetable
Menyusun daftar agenda menjadi cara tersendiri bagi James. Alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada itu acapkali mensiasati ‘bentrokan’ jadwal dengan membuat timetable. Agenda dalamtimetable sendiri memang hanya untuk agenda yang telah rutin atau telah ditentukan sejak jauh-jauh hari. Sementara, ketika ada agenda yang sifatnya insidentil dan tidak tercover dalam timetable, James pun sudah punya siasatnya.

“Kalau soal kerjaan biasanya advokat punya beberapa associate atau asisten. Tapi tetap kita mengawasi semua pekerjaan yang di kantor. Kalau sekadar menghadiri persidangan di agenda replik-duplik bisa ditangani asisten, saat agenda penting barulah kita ikut ke pengadilan. Seorang advokat punya gambaran nanti tahapannya apa saja, jadi sudah bisa diprediksi waktu-wakutunya,” sebut Ketua Umum Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI) itu.

3.    Jaga Profesionalitas
Aktif dalam banyak kegiatan organisasi membuka peluang bagi setiap advokat untuk ‘bertemu’ rekannya di organisasi pada perkara tertentu. Baik James atau Andi, keduanya berpendapat bahwa dalam kondisi seperti itu, setiap advokat mutlak dituntut punya sikap profesional.

“Sebagai seorang profesional kita wajib melaksanakan tugas sebagai advokat. tanpa terpengaruh posisi pertemanan di luar itu. Bagaimanapun, profesi (advokat,-red) ini tidak bisa dikompromikan,” kata James.

Bagi Andi, ‘pertemuan’ seperti itu akan mengukur seberapa tinggi tingkat profesionalitas seorang advokat. secara pribadi, Andi justru senang ketika dipertemukan dengan kondisi demikian. Menurutnya, itu menjadi ujian yang paling nyata dalam mengukur profesionalistas. “Disitulah diuji seberapa profesional kita. Ini adalah ujian yang paling konkret untuk melihat seberapa profesionalkita,” sebut anggota Forum Advokat Konstitusi itu.

4.    Ekstra Energi dan Ekstra Waktu
Berkomitmen penuh pada dua kegiatan sekaligus tentu membutuhkan tenaga dan waktu yang lebih dari biasanya. Seorang advokat yang ingin juga aktif berorganisasi mesti mau berkorban lebih dari sisi tenaga dan waktu. Kebiasaan Andi, ia rela pulang kerumah hingga larut malam usai rutinitas sebagai advokat usai di sore hari dan melanjutkan aktivitasnya di organisasi setelah itu.

“Itu bagian dari extra time buat kita karena itu juga merupakan extra energy. Kita yang pingin aktif di organisasi sambil menjalankan aktifitas sebagai profesi,” kata Andi.

5.    Ajang ‘Gaet’ Calon Klien
Seorang advokat dilarang beriklan untuk mempromosikan jasa hukumnya. Itulah kalimat pemicu yang membuat Andi banyak aktif di sejumlah organisasi. Menurut Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah itu, berorganisasi menjadi ‘pintu masuk’ setiap advokat untuk bisa mengenalkan diri dan memperluas jaringan.

“Sebab kita ini profesi yang dilarang untuk beriklan. Dia harus banyak berkomunikasi dengan berbagai kalangan. Salah satu pintunya adalah organisasi. Disana tempat kumpulnya banyak orang dengan latar belakang beragam. Jadi organisasi adalah supporting system kita dalam berprofesi,” jelasnya.

Sementara itu, James sendiri berpandangan bahwa dengan berorganisasi dapat menunjang profesi advokat itu sendiri. sebab, dengan berorganisasi, jaringan seorang advokat akan bertambah luas. Sejalan dengan itu, berarti jenis perkara yang dibawa oleh klien semakin beragam dan membuat advokat akan terus belajar.

“Kita sebagai advokat, untuk bisa lebih berkembang dalam berkarir harus bisa sebanyak mungkin punya aktivitas lain untuk kembangkan network supaya profesi ini bisa ditunjang dari network itu. Tanpa punya network kita akan kesulitan berkembang. Tidak ada potensi klien yang datang ke kita,” pungkas James.

(Kongres Advokat Indonesia)

Silahkan tinggalkan komentar tapi jangan gunakan kata-kata kasar. Kita bebas berpendapat dan tetap gunakan etika sopan santun.

TERPOPULER

TERFAVORIT

Rapat Perdana Presidium DPP KAI, Kepemimpinan Bersama Itu pun Dimulai
July 3, 2024
Tingkatkan Kapasitas Anggota tentang UU TPKS, KAI Utus 20 AdvoKAI untuk Ikut Pelatihan IJRS
June 26, 2024
The Chef is TSH
June 10, 2024
Dihadiri Ribuan Advokat, Kongres IV KAI di Solo Trending Topic di Platform X
June 9, 2024
Pernah Ditempati Adnan Buyung Nasution, Honorary Chairman Kongres Advokat Indonesia Kini Diisi Tjoetjoe S Hernanto
June 8, 2024