Jadi Advokat Terlalu Mudah padahal Profesi Mulia, Benarkah? - Kongres Advokat Indonesia

Jadi Advokat Terlalu Mudah padahal Profesi Mulia, Benarkah?

Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham) Edward Omar Sharif Hiariej mengatakan, menjadi seorang advokat di Indonesia terlalu mudah, padahal pengacara adalah profesi suci dan mulia.

“Mungkin ini perlu menjadi perhatian bagi Pak Luhut dan Pak Juniver yang punya organisasi advokat. Saya pikir untuk menjadi advokat itu harus ketat,” kata Wamenkumham Edward Omar Sharif Hiariej pada kegiatan peluncuran pelatihan arah pendidikan hukum berkelanjutan di organisasi advokat, di Jakarta, Jumat (12/11/2021).

Ia menyebutkan, sekitar 10 atau 12 tahun lalu, dirinya pernah melakukan sebuah penelitian yang mengangkat tentang pola rekrutmen dan jenjang karier aparat penegak hukum.

Yang menjadi responden penelitian tersebut ialah para polisi, advokat, jaksa, dan hakim. Dalam penelitiannya, dia menemukan bahwa rekrutmen masih menjadi masalah tersendiri.

Untuk menjadi jaksa, hakim, dan polisi masing-masing sudah ada sekolah melalui pendidikan dan latihan. Namun, untuk menjadi seorang advokat, boleh dikatakan seorang lulusan baru yang menyandang gelar sarjana hukum, cukup mengikuti pendidikan beberapa minggu atau beberapa bulan saja maka sudah bisa menjadi seorang advokat.

“Saya kira seharusnya tidak semudah itu,” kata Wamenkumham

Dalam penelitian yang dilakukan beberapa tahun silam tersebut, dia juga membandingkan antara pendidikan aparat penegak hukum di Indonesia dengan Belanda.

Di Belanda, seseorang yang baru lulus dari sebuah universitas ketika ingin menjadi seorang hakim, harus sekolah lagi selama 7 tahun. Jika ingin menjadi seorang advokat, minimal harus sekolah minimal 2 tahun.

“Di Indonesia jenjang karier ini tidak jelas. Ada Kapolri setelah pensiun dapat kartu advokat, ada juga mantan Jaksa Agung punya kartu sebagai advokat,” ujarnya.

Menurut dia, hal itu akan menjadi sebuah masalah psikologis tersendiri ketika mantan Jaksa Agung tersebut bertemu dengan jaksa yang baru di sebuah pengadilan dalam suatu perkara.

“Jadi, mohon maaf, sepertinya menjadi advokat di Indonesia ini sangat mudah, padahal kita tahu bahwa advokat profesi yang mulia,” ujarnya. BERITASATU

Silahkan tinggalkan komentar tapi jangan gunakan kata-kata kasar. Kita bebas berpendapat dan tetap gunakan etika sopan santun.

TERPOPULER

TERFAVORIT

Rapat Perdana Presidium DPP KAI, Kepemimpinan Bersama Itu pun Dimulai
July 3, 2024
Tingkatkan Kapasitas Anggota tentang UU TPKS, KAI Utus 20 AdvoKAI untuk Ikut Pelatihan IJRS
June 26, 2024
The Chef is TSH
June 10, 2024
Dihadiri Ribuan Advokat, Kongres IV KAI di Solo Trending Topic di Platform X
June 9, 2024
Pernah Ditempati Adnan Buyung Nasution, Honorary Chairman Kongres Advokat Indonesia Kini Diisi Tjoetjoe S Hernanto
June 8, 2024